Perempuan ikut demo? Emang pantas?
@ Zen · Senin, 31 Agustus 2020 · 4 menit membaca · Diupdate pada Senin, 31 Agustus 2020

Daftar isi

Di manakah posisi perempuan dalam panggung pergerakan?

Apakah perempuan hanya berdiam diri di dapur dan kamar? Apakah perempuan terjun berdemo di jalan-jalan? Yang manakah yang lebih tepat untuk zaman modern ini?

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu akan membentuk pernyataan yang menjebak. Jika kita katakan bahwa perempuan sebaiknya di rumah aja, maka akan ada orang yang berkata:

Kamu mengekang kebebasan perempuan!

Kamu tidak menghormati hak asasi manusia!

Seperti itukah caramu menghargai perempuan?

Dan berbagai statement tidak menyenangkan lainnya.

Namun, kalau kita membiarkan para perempuan beraktivitas layaknya laki-laki, maka yang terjadi adalah kehilangan fitrah seorang perempuan.

(begitu kata mereka)

Eh, tapi apa sih fitrah itu?

Oke, jadi sebelum kita membahas tentang apa yang sebaiknya dilakukan, kita bahas dulu mengapa kita melakukannya.

Dua pertanyaan yang kuajukan di awal tadi adalah posisi perempuan pada dua kutub yang saling berlawanan. Ketat seketat-ketatnya atau bebas sebebas-bebasnya.

Apakah perempuan hanya berdiam diri di dapur dan kamar? Apakah perempuan terjun berdemo di jalan-jalan? Yang manakah yang lebih tepat untuk zaman modern ini?

Kalau kita berfokus pada salah satu antara dua sikap itu, kita salah. Yang benar adalah kita memilih kedua sikap itu baik secara bersamaan maupun secara beriringan.

Bingung kan?

Jadi, kita akan membahas suatu paradoksial di mana dua kutub yang saling bersebrangan adalah nilai yang sama dan nilai yang berbeda dalam waktu yang sama. Perempuan, antara ketat seketat-ketatnya dan bebas sebebas-bebasnya adalah benar; walaupun nampak saling bertentangan. Mengapa benar? Karena fokus kita nggak di situ.

Aku percaya bahwa persamaan manusia itu ada.

Oke. Digarisbawahi ya, aku percaya bahwa persamaan manusia itu ada. Persamaan manusia, bukan persamaan gender.

Bukankan setiap manusia itu sama. Aku dan kamu sama. Kaya dan miskin sama. Tinggi dan pendek itu sama. Kita semua sama-sama sempurna walaupun ada yang sakit, ada yang berkebutuhan khusus, ada yang keterlambatan perkembangan, ada yang fobia, ada trauma, stres, minder, dan lain sebagainya.

Aku jadi pengen bahas teori perkembangan manusia nih. Tapi nanti lah di postingan lainnya (iklan dulu ya. Hehehhe…)

Nah, kembali ke pernyataan bahwa semua manusia itu sama. Mengapa sama? Bukankah kita melihat bahwasanya kita sama-sama punya jasad, akal, dan ruh. Itulah yang membentuk keutuhan kita sebagai manusia.

graph LR a[Manusia] --> b[Jasad] & c[Akal] & d[Ruh]

Namun, persamaan manusia ini bukanlah persamaan gender. So, buat apa sih menyempitkan sesuatu yang sangat luas untuk sesuatu yang luang lingkupnya kecil?

Ketika kita mendengar persamaan gender, yang terbayang di benak kita adalah pokoknya perempuan harus disetarakan dengan laki-laki! Nah, itu berarti kalau laki-laki bekerja, perempuan juga bekerja. Kalau laki-laki suka makan banyak, perempuan juga gitu.

Eh, apakah aku salah mengambil kesimpulan?

Ya sebenarnya aneh sih ketika sekelompok perempuan menuntut persamaan dengan laki-laki. Persamaan dalam hal apa? Dalam pekerjaan? Hobi? Petualangan? dll…

Bisa beberapa disamakan tapi nggak semua.

Kita manusia itu adalah sama. Tapi, persamaan kita itu disesuaikan dengan kelebihan dan kekurangan kita.

Kelebihan perempuan adalah:

  • Beres-beres
  • Beres-beres
  • Beres-beres

Kelebihan laki-laki adalah:

  • Main
  • Main
  • Main

Dari perbedaan ini saja sudah kelihatan perbedaan kita. Perempuan suka beres-beres. Berantakan sedikit diberesin. Ada berantakan lagi, diberesin. Laki-laki kadang melihatnya sebagai sesuatu yang nggak asik buat main.

Laki-laki suka main. Main motor-motoran; ngebongkar, pasang variasi, besarin knalpot, dll. Suka juga main mengejar jabatan setinggi-tingginya dengan berbagai intrik untuk meraih kursi. Perempuan juga suka sih mengejar jabatan. Tapi tentu dengan cara yang beres-beres bukan dengan cara main. Itulah mengapa terkadang perempuan melihat laki-laki sebagai sosok yang berantakan.

Tapi, bukankah walau kelihatan berbeda, kita juga sama? Sama-sama kerja misalnya.

Iya. Itu jawabannya. Kita sama nakun berbeda. Jadi, ketika laki-laki terjun di dalam pergerakan, perempuan juga terjun di pergerakan namun dengan langkah yang berbeda.

Jadi, mungkin dalam suatu pergerakan, laki-laki terjun langsung ke lapangan sedangkan para perempuan berada di balik layar, meneliti dan menganalisa kesehatan sistem suatu organisasi dan mengevaluasi.

Jadi, nggak semuanya terjun di lapangan. Itu yang namanya cerdas. Kalau semua terjun ke lapangan, itu namanya keroyokan. Dan sekali lagi, aku nggak rasis dengan memisahkan laki-laki dan perempuan. Kita memang berbeda namun bisa bergerak dengan cara yang berbeda menempuh suatu visi yang sama.

Bukankah jihadnya laki-laki adalah di medan pertempuran sedangkan jihadnya perempuan adalah melahirkan?

Bukankah amalan laki-laki adalah mengumpulkan nafkah sedangkan amalan perempuan adalah mengatur keuangan yang ada?

Jadilah cerdas dengan mengorganisir tugas, bukan keroyokan.

Atribusi

https://unsplash.com/photos/48UaeIMNAA4?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

Tulisan lainnya

Link Medsos