Mengapa kita suka berteriak?
@ Zen · Minggu, 13 September 2020 · 2 menit membaca · Diupdate pada Minggu, 13 September 2020

Daftar isi

Padahal aku di hadapanmu…

Mengapa kita suka berteriak? Padahal aku di hadapanmu, padahal kamu bisa mengatakannya tanpa berteriak…

Berteriak nggak hanya untuk mengungkapkan perasaan yang jauh, namun dia juga bisa mengungkapkan perasaan yang amat tinggi.

Contoh dari perasaan yang jauh adalah seperti dua orang yang sedang berseteru. Padahal, kita bisa melihatnya di hadapan kita bahwasanya kedua orang itu berjarak nggak sampai satu meter. Tapi, kenapa dua orang itu saling berteriak, saling memelototkan mata, saling berusaha membuat gemetar lawan bicaranya. Itulah yang namanya perasaan yang jauh. Fisiknya dekat, namun perasaannya sangat jauh sehingga nggak bisa dicapai pesannya jika hanya bisik-bisik. Harus teriak.

Lalu, contoh dari perasaan yang amat tinggi adalah ketika seseorang mengaji dan kemudian orang tersebut mulai menaikkan intonasi suaranya, kemudian menyaringkan suaranya, begitu seterusnya hingga si pembaca Quran tadi pun nggak sadar kalau suaranya sudah sangat nyaring. Itu artinya bahwa orang tersebut sudah terbawa perasaan yang sudah amat tinggi. Ketika membaca Quran tadi, dia awalnya biasa aja. Namun, ketika sudah begitu nyaman, suaranya semakin meninggi.

Contoh dari bacaan Quran yang mulai meninggi itu adalah ketika si pembaca Quran itu mengerti dan memahami betul dengan apa yang dibacanya. Jadi, ketika dia membaca ayat-ayat tentang adzab, mengalirlah air matanya hingga mulai lirih suaranya kemudian mulai terbayang-bayang betapa dahsyatnya adzab yang menimpa orang-orang yang tak mau taat pada perintah-Nya. Suaranya mulai mendaki nyaring. Suaranya semakin menjerit seakan tak mau, sangat tak mau, menerima walau sedikit pun dari siksaan yang akan diterima oleh orang-orang yang durhaka.

Namun, ketika membaca ayat-ayat tentang nikmat surga, si pembaca mulai memunculkan imaji tentang indahnya surga, beningnya air yang mengalir di bawah jembatan-jembatan surga, betapa jernihnya langit, indahnya awan, pelangi, burung-burung yang tak pernah ditemukan di dunia lalu beterbangan mengelilingi surga, istana-istana megah yang disiapkan hanya untuknya, dan berbagai kenikmatan lainnya yang akan didapatkannya jika ia taat.

Lalu, bacaannya pun semakin menghayati hingga tak terasa betapa nyaringnya dan ingin mencoba untuk menyaringkannya lagi saking menghayatinya pada makna tentang indahnya ganjaran yang akan diperoleh orang-orang yang bertakwa dan beramal sholeh.

Jadi kesimpulannya memang dari satu kegiatan aja (teriak) ada dua makna yang saling bertentangan. Kita menilainya berdasarkan konteks terjadinya perilaku tersebut.

graph LR a(Teriak) --> b(Perasaan jauh) & c(Perasaan yang amat tinggi)

Atribusi

Photo by Sophie Dale on Unsplash

Tulisan lainnya

Link Medsos