Keraguan kita pada kausalitas
@ Zen · Minggu, 6 September 2020 · 2 menit membaca · Diupdate pada Minggu, 6 September 2020

Daftar isi

Apakah zaman sekarang, orang sudah nggak punya iman?

Kalau di artikel sebelumnya aku sepmat mengungkit tentang the strong why, kali ini mungkin aku akan lebih mendalam membahas tentang prinsip-prinsip kausalitas.

Ini bukan blog ilmiah, jadi jangan dijadikan referensi skripsi ya…

Apa itu kausalitas?

Kausalitas sederhananya adalah seperti yang ditampilkan pada diagram di bawah ini:

graph LR a(Sebab) --> b(Akibat)

Yap, sesimpel itu. Ada sebab, ada akibat. Namun, di dunia yang serba realtime ini, semuanya jadi berubah:

graph TB a(Sebab) --> b[Akibat] -.-> c{Terjadi?} -- iya --> d(Percaya) c -- nggak --> e(Ragu) d -. "faktor lain" .-> e e -. "faktor lain" .-> d

Terlihat dari diagram di atas bahwasanya prinsipnya tetap sama yaitu ada sebab, ada akibat. Yang menjadi perbedaan adalah pada decision terjadi? yang akhirnya akan menghasilkan dua jawaban: iya atau nggak. Kalau iya, maka finishnya adalah percaya. Jika nggak, maka finishnya adalah ragu.

Namun, kepercayaan itu sangat dipengaruhi oleh faktor lain yang belum bisa didefinisikan secara pasti misalnya aja ikut-ikutan teman, media massa, bombardir iklan, media sosial, grup WA, grup Telegram, dan segala media yang senantiasa membuat kita kebanjiran informasi.

Hingga akhirnya, kita langsung mengubah keputusan kita tanpa melalui proses berpikir kembali. Lalu, absolutisitas sebab-akibat akan pudar dan berubah menjadi relativitas dan skeptisitas.

Alur putus-putus dari diagram di atas itu hanya garis imaji. Aslinya tu nggak ada.

graph LR a(( )) -.-> b(( ))

Jadi sebenarnya ya, diagramnya itu hanya berhenti di akibat.

graph LR a(Sebab) --> b(Akibat)

Lalu, dari manakah semua garis-garis putus itu?

Itu semua hanya imaji yang dibentuk oleh gambaran mental kita aja. Aslinya ya kita belum tau apakah berhasil atau gagal, bisa atau nggak. Semua jawaban itu hanya kita dapatkan dari media sosial yang membombardir kita setiap saat.

Solusi

Maka, solusinya adalah kembali ke origin, kembali pada kausalitas baku; sebab-akibat. Akhirnya, kita berpegangan pada premis-premis yang selama ini kita yakini (sebelum ada internet 4.0):

  • Kalau aku rajin menabung, aku akan kaya
  • Rajin belajar, akan jadi pintar
  • Rajin ibadah, pahala banyak
  • Suka ngomongin orang, nanti kita juga diomongin orang lain
  • Suka senyum, orang suka sama kita
  • Dan premis-premis common sense lainnya…

Atribusi

https://unsplash.com/photos/xj8qrWvuOEs?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

Tulisan lainnya

Link Medsos