Bagaimana caranya setia pada hafalan Quran?
@ Zen · Jumat, 4 September 2020 · 3 menit membaca · Diupdate pada Jumat, 4 September 2020

Daftar isi

Menghafal Quran berarti menjaganya.

Ini sesuai dengan arti kata hafidz Quran yang artinya adalah penjaga Quran. Menjaga Quran beda dengan cuma menghafalkannya. Kalau menghafalkannya, berarti cuma sekali.

Namun, kalau menjaga Quran, berarti senantiasa menjaganya hingga akhir kehidupan kita. Tentu, setiap muslim menginginkan posisi yang sangat mulia ini.

Namun, nggak semua orang sanggup melakukannya. Karena, dibutuhkan kesabaran untuk menempuh waktu yang sangat panjang untuk menghafalkannya. Kalau mudah menyerah, maka akan susah untukt menjaga Quran.

Makanya, biasanya pondok pesantren khusus menghafal Quran menerapkan waktu yang lama untuk menghafal Quran. Kalau di Temboro, perlu waktu tujuh tahun bagi santri untuk menghafal Quran.

Itu sih kalau hasil wawancaraku ketika berkunjung ke Temboro. Kalau secara real di lapangan, aku nggak terlalu tau juga karena aku belum pernah mencoba mondok di Temboro.

Namun, kalau di mahad Isy Karima, hanya perlu waktu empat tahun saja untuk menyelesaikan hafalan 30 juz. Konsekuensinya, setiap tahunnya harus hafal 10 juz. Maka, dalam tiga tahun, sempurnalah 30 juz.

Lalu, di tahun keempatnya, penggabungan hafalan-hafalan yang ada menjadi 30 juz secara paripurna dan disetorkan kepada musrif tahfidz dalam sekali duduk.

Walaupun terlihat sangat mudah jika kita mengucapkannya dengan angka-angka, nyatanya tidaklah demikian. Hanya santri yang sabar sajalah yang bisa melaluinya. Tapi, alhamdulillah, rata-rata pada sabar sih.

Kalau di Isy Karima, ketika kamu nggak mencapai target 10 juz dalam satu tahun, kamu nggak akan naik kelas, bahkan jika hafalanmu yang 10 juz itu kurang satu ayat.

Mengerikan? Lumayan sih. Namun, kalau kita taat pada aturan yang ada, semuanya bisa kita lalui dengan lancar.

Murajaah hafalan Quran setelah lulus

Lalu, bagaimanakah cara kita memurajaah Quran setelah lulus? Bagaimanakah nasib hafalan kita? Apakah masih ada atau lenyap?

Ada memang santri-santri yang masih tetap memurajaah hafalannya setelah lulus. Namun, nggak sedikit juga santri yang meninggalkan hafalannya setelah lulus. Sehingga, nggak tau tuh, masih ingat apa nggak sama hafalannya.

Lalu, bagaimana jika kita lupa sama sekali dengan hafalan 30 juz yang pernah dihafal? Apa yang harus kita lakukan? Apakah pasrah aja? Atau mencoba memurajaahnya walaupun berat?

Ingatlah kembali pada makna dari hafidz Quran yaitu penjaga Quran. Menjaganya berarti senantiasa mengingat-ngingatnya walaupun sudah sangat berat. Tentu, karena kita setia pada Quran, maka kita nggak boleh meninggalkannya.

Walaupun kita lupa sama sekali dengan ayat-ayat yang kita hafal hingga hanya bersisa tiga qul saja, teruslah berusaha untuk menghafalkan ayat-ayat yang pernah kita hafal.

Mengapa kita harus senantiasa setia pada hafalan Quran kita? Tentu karena hafalan adalah anugrah yang nggak semua orang dapatkan. Lalu, apakah setelah kita mendapatkannya, kita mencampakkannya?

Nggak kan? Tentu kita akan senantiasa menjaganya. Nggak mudah loh mendapatkan hafalan Quran. Apalagi hafalan Quran 30 juz. Itu membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran yang nggak sedikit.

Dan nggak semua orang bisa melakukannya. Jadi, kamu adalah orang-orang terbaik jika bisa melakukannya. Jangan sia-siakan hafalan yang sudah kamu miliki. Teruslah murajaah, hingga pada akhirnya takdir menghendaki perpisahan kita dengan jasad.

Teruslah murajaah walaupun lelahnya sama seperti hafalan baru. Karena kita nggak tau apakah diri kita layak menempati jannahnya. Maka, berharaplah bahwa dengan kesetiaan kita pada Quran, Allah meridhai kehadiran kita.

graph LR a[Hafidz Quran] --> b[Penjaga Quran] & c[Kesetiaan] & d[Kesabaran]

Atribusi

Photo by Marc-Olivier Jodoin on Unsplash

Tulisan lainnya

Link Medsos