Aku ingin jadi penulis egois!
@ Zen · Sabtu, 5 September 2020 · 4 menit membaca · Diupdate pada Sabtu, 5 September 2020

Daftar isi

Aku ingin saat ini juga!

Menjadi penulis bukan profesi yang tepat. Mengapa? Karena, dengan menjadi penulis berarti kamu harus mengorbankan kebebasanmu demi mengikuti selera pasar, metrik peluang lakunya buku, aturan 5000 eksemplar, dan berbagai aturan teknis lainnya. Hal ini tentu akan mengekang kebebasan penulis dalam mengeksplorasi semesta bahasa dengan lebih luas dan bebas.

Sebenarnya bisa kita menjadi bebas tanpa harus kepikiran dengan berbagai metrik laba-rugi yang menggentayangi setiap penerbit konvensional dan penulis di penerbit modern. Apa itu? Blog! Dengan blog, kamu nggak usah khawatir jika kontenmu nggak ada yang bisa menemukannya dan kemudian membelinya. Karena blog berarti menghadirkan konten gratis kepada pembaca!

Jadinya rugi dong? Maybe. Tergantung dari sisi mana kamu melihatnya. Apakah kamu melihatnya dari sisi mendapatkan uang dengan cepat ataukah dari sisi membangun komunitas fans (fanbase)? Kalau dari sisi membangun fanbase, membuat blog adalah strategi yang tepat!

Mungkin di awal-awal, kamu akan kelelahan, capek, bahkan membayar biaya untuk domain .com tiap tahunnya (kalau .com nggak usah khawatir sih. Dengan 50 ribu aja, kamu sudah bisa mendapatkannya). Oh iya, mengapa harus .com? Itu untuk domain authority (DA). Semakin lama dan berkualitas blogmu, semakin tinggi juga DAnya. Kalau misalnya nggak dari awal kamu buat .com, nanti kalau misalnya DA sudah tinggi dan masih .com, ketika dibelikan .comnya, DAnya mulai dari nol lagi.

Oh iya, kembali dengan pertanyaan: Mengapa harus blog? Mengapa gratis? Nah, tau Laravel, Codeigniter, Bootstrap, Vue, React, dan berbagai teknologi website saat ini? Tau nggak, kalau itu semua gratis! Artinya, developer bebas menggunakannya tanpa membayarnya.

Lalu, dari mana pemasukannya? Nah, kamu coba dulu seperti mereka; bermula dari gratis, membangun fanbase, dan jangan lupa juga aktif di komunitas blog, maka kamu akan menemukan jawabannya.

Di saat blogging nggak lagi bebas

Saat ini banyak komunitas blog yang open dengan para blogger mana pun buat mengikuti kursusnya. Dan itu sekua free! Aku pun juga ikut walaupun cuma sedikit. Dari situ, aku mendapatkan beberapa seni blog yang langsung kuterapkan seperti membuat fanpage Facebook untuk blog, membuat daftar isi, dan satu paragraf artikel nggak lebih dari lima baris kalau dilihat di laptop.

Lalu, apakah seni-seni mengekang seorang blogger dalam memproduksi konten di blognya? Tergantung. Tergantung seberapa besar jiwa memiliki yang dimiliki oleh blogger tersebut. Jika memang blogger tersebut sayang kepada blognya, maka dia akan mengikuti berbagai seni blog itu demi melihat blog kesayangannya tumbuh dewasa. Itu nggak mengekang kebebasan tapi memberi ruang bagi blog untuk mengeksplorasi dirinya.

Tapi kemudian, blogger akan merasa lelah mengurusi anak kesayangannya (blog) dan mulai meminta pamrih baik secara tersirat maupun nampak. Contoh dari salah satu pamrih itu adalah menuntut orang lain untuk berkomentar di blognya (selain tugas maksudku).

Maka, blogger akan kehilangan jati dirinya di hadapan entitas blognya. Dia kehilangan the strong why dalam merawat blognya. Lalu, dia nggak akan bisa menjadi blogger egois (tema tulisan kali ini yang dari tadi belum ada kusinggung karena lupa judulnya).

Menjadi penulis egois

Penulis egois secara etimologi adalah gabungan dari lema tulis yang menjadi kata penulis dan lema egois. Namun, secara etimologi adalah pokoknya nulis aja.

Inilah yang jarang kita dapatkan hari ini. Bahkan di relung jiwa yang paling dalam dari kita hingga akhirnya menyiratkan suatu pertanyaan filosofis:

Aku ini ngapain ya?

Eh bukan itu. Maksudku adalah:

Aku blogger. Mengapa aku blogger? Apa tujuanku dengan bloggerku? Mengapa aku masih menjadi blogger?

Inti dari semua pertanyaan retoris itu adalah the strong why dalam menjalani peran sebagai blogger.

Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura
Mengapa kita bersandiwara?
Mengapa kita bersandiwara?

Menjadi blogger egois berarti menjadi lepas, bebas, terbang mengangkasa bersama merpati-merpati putih yang menjelajah liar.

Blogger egois tak peduli sudah berapa banyak kunjungan, berapa komen, berapa like, yang di ujung matanya hanyalah keceriaan para generasi setelahnya karena mendapatkan manfaat dari ilmu yang dilepasnya kepada semesta. Menjadi blogger egois memang tak mudah karena tak banyak yang ingin. Ketika ingin, tak sungguh dalam keegoisannya. Hingga akhirnya, konten yang dibuat pun asal-asalan, yang penting jadi. Nggak peduli apakah membawa wawasan baru kepada para pembaca atau tidak.

Seperti artikel ini…

Atribusi

https://unsplash.com/photos/i-CiAEAVusI?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

Tulisan lainnya

Link Medsos